Berkata ala Diri Sendiri, Berawal di Bumi Sendiri—Merah Putih!!—

Berupaya menyisir, menggeledah, membongkar sembari mencari, menyelidiki, ataupun nyantri pada Kiai Kehidupan untuk memilah dan berusaha menemukan apa yang pantas diperjuangkan dalam hidup...
Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 April 2012

REVIEW MAU DIBAWA KEMANA SINEMA KITA?: BEBERAPA WACANA SEPUTAR FILM INDONESIA


Sinema merupakan salah satu media efektif penyampai pesan karena dapat dikatakan sebagai salah satu media komunikasi. Dijelaskan dalam Mukaddimah Anggaran Dasar Karyawan Film dan Televisi 1995, hakikat film bukan semata-mata sebagai barang dagangan. Film merupakan alat pendidikan dan penerangan yang mempunyai daya pengaruh yang besar untuk masyarakat. Film dinilai sebagai alat revolusi yang dapat menyumbangkan dharma bhaktinya dalam menggalang kesatuan dan persatuan nasional, membina bangsa dan membangun karakter dalam mencapai masyarakat sosialis Indonesia berdasarkan Pancasila.

Sebagaimana yang dikatakan oleh James Monaco dalam How to Read a Film, film bisa dilihat dalam tiga kategori, yakni sebagai sinema, film, dan movies. Pengkajian film dalam beberapa aspek kiranya juga dapat ditelusuri dalam buku yang akan dibicarakan dalam tulisan ini, yakni buku berjudul Mau Dibawa Kemana Sinema Kita?: Beberapa Wacana Seputar Sinema Indonesia yang diterbitkan oleh Binus Publishing, Sekolah Film Binus, Penerbit Salemba Empat, dan Asian Cinema.

Dalam buku tersebut, setidaknya terdapat pandangan awal pembaca bahwa selama ini sinema sebagai subjek kajian kian hari kian diminati, termasuk sinema Indonesia. Penikmatnya pun tak hanya dalam lingkup nasional, tetapi juga internasional. Sejatinya, buku tersebut adalah terjemahan dari jurnal Asian Cinema Special Issue: Indonesian Cinema Today-Asian Cinema Journal, Vol. 21, No. 2, Fall/Winter 2010 (Temple University, USA) yang beredar November 2010. Editornya adalah Khoo Gaik Cheng dari Australian National University dan Thomas Barker dari National University of Singapore. Sementara itu, Ekky Imanjaya sebagai penyunting edisi Indonesia.

Dipaparkan oleh editor, edisi khusus Asian Cinema ini merupakan hasil dari kolaborasi antara editor dengan beberapa akademisi muda, penulis skenario film, dan para kritikus yang bekerja di sinema Indonesia. Beberapa yang tergabung dalam jurnal tersebut adalah Khoo Gaik Cheng, Thomas Barker, Ekky Imanjaya, Charlotte Setijadi-Dunn, Eric Sasono, Budi Irawanto, Intan Paramaditha, Katinka van Heeren, dan Maimunah. Sementara itu, dalam edisi Indonesia ini, terdapat tambahan tulisan dari Veronika Kusumaryanti yang membahas tentang film-film horror Indonesia dan Nosa Normanda yang membahas tentang film-film Joko Anwar. Penambahan tulisan tersebut dilakukan untuk (setidaknya) menambal koleksi tulisan tentang teorisasi tersendiri terhadap genre horor yang dianggap spesial, bahkan telah menjadi topik dari beberapa skripsi atau tesis.

Buku ini menawarkan keberagaman gagasan dan telaah, mulai dari pertanyaan-pertanyaan seputar gagasan “Film Nasional” yang dipaparkan oleh Thomas Barker dan Charlotte Setijadi-Dunn. Terdapat dua tulisan mengenai hal ini, yang pertama adalah tulisan berjudul Mempertanyakan Gagasan “Film Nasional” oleh Thomas Barker, kemudian disusul oleh Membayangkan ‘Indonesia’: Produser Etnis Tionghoa dan Sinema Pra-Kemerdekaan yang ditulis oleh Charlotte Setijadi-Dunn bersama Thomas Barker pula. Kedua tulisan ini menggiring film Indonesia dalam konteks historis. Pembicaraan ini seputar sejak kapan dan mana yang patut disebut sebagai permulaan film Indonesia yang ‘Indonesia’ sebagai respons atas pernyataan Misbach Yusa Biran (2009:45) dalam Sejarah Film 1900-1950 bahwa semua film yang diproduksi sebelum tahun 1950 ‘bukan film Indonesia’. Sementara itu, terdapat sisi lain sejarah produksi film di Indonesia. Hal ini dikemukakan dalam tulisan kedua oleh Charlotte Setijadi-Dunn dan Thomas Barker. Film-film pranasionalis dan komersial tidak dihargai. Kedua penulis itu mengemukakan bahwa penonjolan yang dilakukan oleh Biran merupakan indikasi dari bias etno-nasionalisme yang tersebar luas kemudian menghasilkan historiografi sempit. Tulisan ini mengemukakan adanya sumbangsih yang sangat berarti oleh film-film produksi etnis Tionghoa yang dianggap telah merintis pembuatan film panjang di Indonesia, mengonstruksi gambaran awal alam, orang-orang, dan kebudayaan lokal Indonesia di atas layar. Membicarakan film dalam konteks historis ini sebenarnya sudah kerap ditemui dalam tulisan-tulisan dalam negeri. Pembicaraannya pun tidak jauh-jauh dari yang dikemukakan oleh dua penulis di atas. Namun, tulisan ini cukup memantik kesadaran-kesadaran dan pertanyaan-pertanyaan baru sebagai tulisan pembuka dalam buku ini sebagai penguatan bahwa interpretasi sejarah tetap menjadi tugas penting.

Beralih pada tulisan selanjutnya, pembaca dihadapkan pada tiga tulisan tentang fenomena film-film Islam yang belakangan ini menjadi penting. Tulisan-tulisan tersebut, diantaranya adalah berjudul Film-film Indonesia Bertema Islam Dewasa Ini: Jualan Agama atau Islamisasi? oleh Eric Sasono, “Passing” dan Naratif “Pindah Agama”: Ayat-ayat Cinta dan Performativitas Muslim Indonesia Komtemporer oleh Intan Paramaditha, dan Kemandang “Kantata Takwa” oleh Katinka van Heeren. Tulisan-tulisan ini membuka perdebatan tentang hubungan agama dan kebudayaan. Debat dan diskusi yang berkembang menyusul popularitas genre tersebut semakin meningkat. Eric Sasono member gambaran menyeluruh tentang film-film bertema Islam sejak periode Orde Baru ketika film-film bertema Islam memiliki dimensi sosial yang lebih kuat, hingga kecenderungan sekarang ketika Islam sangat dihubungkan dengan gaya hidup. Sementara itu, Intan Paramaditha mendiskusikan lebih jauh soal hubungan antara penampilan (appearance) dan praktik Islam di film-film masa kini. Intan melacak performativitas Islam, baik di layar kaca maupun pada pembuat-pembuat film yang diidentikkan dengan genre ini. Lalu, pada tulisan ketiga, Katinka van Heeren menganalisis Kantata Takwa (2008) dengan menyoroti bagaimana Islam masih sangat kuat sebagai bentuk perlawanan politik. Tiga tulisan ini sebenarnya bukan bahasan ‘baru’ dalam perbincangan seputar film di Indonesia. Namun, dengan fokus yang berbeda-beda, tetapi tetap mengacu pada film bergenre Islam, tiga esai tersebut beriringan memperkaya gambaran sinema Islam di Indonesia.

Sementara itu, setelah berkutat pada film-film genre Islam, pembaca seperti digiring pada pandangan oposisinya. Sebagai jurnal yang berfokus pada perkembangan-perkembangan baru satu dekade terakhir, tulisan-tulisan di dalamnya juga bermaksud untuk meletakkan film-film kontemporer dalam konteks historis dan sosialnya. Persoalan gender dan seksualitas merupakan diskursus yang muncul dalam tulisan berikutnya dalam jurnal ini, yakni dalam Queer Indonesia dan Sentralistis Keluarga Heteronormatif yang ditulis oleh Maimunah. Tulisan ini berusaha menggunakan teori queer untuk melihat representasi gay dan lesbian pada film-film Indonesia. Representasi ini terlihat jelas dalam film-film yang diproduksi oleh Kalyana Shira Productions, termasuk diantaranya yang terbaru, yakni At Stake (Pertaruhan, 2008).

Berikutnya, pembaca dihadapkan pada kemunculan film-film independen dan alternatif yang bekerja lintas jenis film, seperti film panjang, film pendek, documenter, dan iklan. Edwin merupakan satu contoh menonjol. Oleh karena itu, film-film Edwin disoroti khusus dalam jurnal ini melalui tulisan Khoo Gaik Cheng, yakni Menyoroti Film-film Edwin. Dikatakan oleh Khoo Gaik Cheng, seperti lampu yang berkedip, karya-karya Edwin, cacat maupun tidak, meminta perhatian. Tulisan ini memberikan cukup gambaran sekaligus contoh analisis bagi akademisi-akademisi maupun semua kalangan yang berniat membicarakan film dari sudut pandang penyutradaraan atau produsernya.

Masih dalam koridor film-film independen dan alternatif, tulisan berikutnya merambah pembicaraan tentang evaluasi dan pandangan tentang film-film dokumenter. Tulisan berikutnya berjudul Catatan dari Kursi Juri Festival Film Dokumenter: Wacana Film Dokumenter Independen Kontemporer oleh Budi Irawanto selaku juri dalam festival tersebut. Menurut Budi, menonton film-film documenter independen Indonesia seperti tengah memasuki labirin penuh dengan persoalan sosial dimana kebanyakan film dokumenter menggambarkan orang-orang yang terpinggirkan sebagai ‘yang lain’ dan berjarak, dibingkai dengan pandangan turistik dan dengan kecenderungan eksotisasi. Hal ini barangkali mencerminkan keengganan para pembuat film untuk mendekati subjek mereka secara intim. Pembicaraan seputar film dokumenter ini dirasa mengandung banyak potensi untuk memunculkan lebih banyak pertanyaan tentang kompleksitas masyarakat Indonesia yang sedang berubah.

Sementara itu, tulisan selanjutnya membahas tentang Hantu-hantu dalam Film Horor Indonesia oleh Veronika Kusumaryati dan Tiga Film Joko Anwar: Kebebasan Kreasi di Perfilman Indonesia Pasca-Soeharto oleh Nosa Normanda. Kemudian, pembicaraan dalam buku ini ditutup indah oleh tulisan pendek yang cukup dianggap baru, yakni Senarai Publikasi Berbahasa Inggris Seputar Sinema Indonesia yang ditulis Ekky Imanjaya.

Mau dibawa kemana film Indonesia di masa depan belumlah jelas. Para pembuat film dari spectrum yang berbeda menyetujui dan mengonsolidasikan energi mereka—baik mereka yang memiliki film-film seni yang ‘serius’ dan mereka yang memproduksi film komersial—untuk bersama-sama melawan UU film baru (UU No.33/1999, disahkan September 2009) yang dibuat tanpa konsultasi dengan produser, sutradara, dan pihak-pihak lain yang selama ini aktif di dunia perfilman Indonesia. Buku ini layak sebagai bacaan yang memantik wacana-wacana lanjutan seputar sinema-sinema Indonesia. (2012)

Jumat, 20 Mei 2011

Di Balik Polemik Perpecahan


Judul : Tanah Air Beta
Tahun : Februari 2011
Penulis Skenario : Ari Sihasale, Nia Sihasale, Gunawan Rahardjo
Sutradara : T. Moty D. Setyanto
Produser : Ari Sihasale, Nia Sihasale
Pemain : Alexandra Gottardo, Asrul Dahlan, Yehuda Rumbindi, Griffit Patricia, Lukman Sardi, Ari Sihasale, Robby Tumewu, Thesa Kaunang, Marcel Raymond, Martalita Nadia
Jenis Film : Drama
Kategori : Remaja

Ketika pertama kali mendengar judul Tanah Air Beta, terbersit dalam benak bahwa film ini adalah film tentang nasionalisme dan sejenisnya. Penggunaan kata ganti ‘beta’ juga menunjukkan bahwa sebenarnya latar dalam film ini jelas bukan pulau Jawa yang tidak biasa menggunakan kata ganti ‘beta’. Jelaslah kiranya bahwa setting tempat di luar Jawa, yakni di sekitar Timor Barat (Propinsi Nusa Tenggara Timur) dan Timor Timur (Timor Leste).

Film ini meyoroti kehidupan warga Timor setelah Jajak Pendapat 30 Agustus 1999. Lebih dari 300.000 orang mengungsi dari Timor Timur ke Timor Barat. Konflik pelepasan diri Timor Timur dari Indonesia ini menyisakan kisah seputar perbatasan. Banyak anak-anak yang dipisahkan dari keluarganya, istri dari suaminya, guru dari muridnya, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, kisah seputar inilah yang diangkat menjadi permasalahan utama dalam film ini.

Seperti halnya film Denias yang juga besutan Alenia Productions, film Tanah Air Beta ini juga mengangkat aktor dan aktris pribumi Timor, yakni Yehuda Rumbindi (Carlo) dan Martalita Nadia (Merry kecil). Tentu saja, tidak semuanya dari kalangan pribumi Timor, tersebut juga Alexandra Gottardo (Tatiana) dan Asrul Dahlan (Abu Bakar) sebagai tokoh utama disamping Carlo dan Merry. Perjalanan tokoh-tokohnya hadir dalam latar Indonesia Timur dengan segala keadaan alamnya. Sebut saja ilalang, sabana, jalan berkelok-kelok naik-turun, gunung, dan lain sebagainya.

Film ini mengisahkan tentang seorang guru bernama Tatiana (Alexandra Gottardo) yang dipisahkan dari anaknya, bernama Mauro (Marcel Raymond) yang tertinggal di Timor Timur. Sementara di Timor Barat, ia tinggal bersama anak perempuannya, Merry (Griffit Patricia). Segala usaha ia lakukan untuk bertemu anaknya. Merry pun sangat rindu dengan kakaknya. Hingga pada suatu hari, Merry pergi sendiri ke daerah perbatasan hanya untuk mencari kakaknya. Carlo, teman Merry, menyusul Merry yang belum begitu jauh dan membujuknya agar pulang. Namun, Merry tak mau. Kemudian, mereka bertualang bersama untuk mencapai daerah perbatasan yang sangat jauh dari tempat tinggalnya.

Selain jalan cerita yang sederhana tapi mengena, Tanah Air Beta juga mengangkat profesi-profesi penting di daerah pedalaman, seperti Timor. Sosok guru, dokter, petugas keamanan perbatasan diperlihatkan sangat mengambil peran penting. Sosok guru Tatiana yang dipanggil ‘mama guru’ oleh murid-muridnya menjadi sosok yang dihormati dan diharapkan kedatangannya. Sosok dokter seperti dokter Joseph pun tak kalah penting perannya, beberapa fragmen mengisahkan bahwa kesehatan adalah hal yang sangat penting dan dokter masih minim sekali. Para petugas keamanan perbatasan digambarkan sebagai kawanan yang sadis dan bisa menembak sewaktu-waktu. Hal ini mengisyratkan adanya ketegasan pada hal-hal yang menyangkut ‘perbatasan’.

Sejauh ini, dianggap bahwa film Tanah Air Beta ini menarik karena mengisahkan tentang kehidupan diantara perbatasan. Film ini juga mengisyaratkan adanya kesusahan-kesusahan yang terjadi akibat polemik kenasionalan, tentang bagaimana anak yang menderita karena dipisahkan dari keluarganya, tentang anak yang sangat rindu dengan kakaknya, dan lain sebagainya. Film ini memberikan referensi bahwa ada fakta-fakta dan kehidupan lain di sana yang jauh dari kenyamanan. Secara kasat mata, film ini dinilai mampu membangun semangat persudaraan, persahabatan, kekeluargaan, dan cinta tanah air. Betapa perpisahan juga bisa menjadi sebuah tragedi, apalagi yang menyangkut perpisahan antara dua Negara. Semangat persatuan dan kesatuan senantiasa yang menjadi renungan dalam film berdurasi 94 menit ini. [AR]

Minggu, 15 Mei 2011

Kartini = Yang Mampu ‘Keluar’ dari Biasa


Bagi saya, saat ini, R.A. Kartini hanyalah simbol, simbol wanita pejuang pendidikan dan kesetaraan. Memang, perjuangan R.A. Kartini dapat dikatakan ‘keluar’ dari kebanyakan wanita pada masanya, para wanita Indonesia patut berterima kasih atas jasa-jasanya ‘memerdekakan’ sesamanya. Namun, untuk konteks saat ini, dimana era globalisasi menuntut keterbukaan akses informasi dan komunikasi yang tak terbatas, Kartini haruslah beda dan lebih dari sekadar pengentasan buta aksara. Kartini yang dapat bersaing sesuai dengan tuntutan jaman, tapi tak harus terseret arus :)

Baiklah, bertolak dari pertimbangan bahwa semangat paling besar dan paling berpengaruh adalah semangat yang datang dari diri sendiri, izinkan saya bernarsis ria dengan semua ini :D

Kartini Muda bagi saya adalah jiwa dan raga saya sendiri. Hehe. Upaya ini bukan untuk meninggikan diri atau malah bersombong ria, ini hanya wujud kepercayaan diri sebagai anak pertama seorang petani dengan mantan guru SD dan sebagai kakak dari tiga perempuan-perempuan kecil :)

Namun, keluar dari itu semua, Kartini kali ini justru hadir karena Kartini-Kartini yang lain, empat Kartini yang sangat menyita hidup saya, yakni R.A. Kartini, ibu saya, dan tiga adik perempuan saya. Kartini kali ini tidaklah hadir karena kekosongan, Kawan! :D

Beranjak pada konsep Kartini, bagi saya, menjadi Kartini ‘kali ini’ berarti sebuah upaya melawan stereotipe, melawan ‘yang biasa’. Sejauh mata ini memandang, globalisasi sangat berpotensi membangun stereotipe-stereotipe baru yang justru cenderung dangkal dan praktis. Sebut saja, budaya hedonis di kalangan remaja, trend pakaian, dan aspek-aspek gaya hidup lain yang begitu gampangnya masuk dan diterima oleh otak-otak bangsa Indonesia. Apalagi, perempuan menjadi lahan yang sangat basah :)

Maka, saya memilih menjadi ‘keluar’ dari yang biasa, ‘keluar’ dari yang stereotipe, demi masuk ke ruangan selanjutnya yang lebih konsisten dan konsekuen.

Konkretnya?

Tuhan memberi saya rasa malu untuk mengikuti tren pakaian hingga tren kawat gigi :D hingga saya hadir dalam pribadi ‘yang sederhana’ dengan kemeja, kaos, dan jeans. Tuhan pula yang memberi saya semangat untuk kuliah di luar propinsi walaupun di desa saya, hanya dua orang yang mengenyam pendidikan tinggi.

Ibu memberi saya wejangan tentang malunya seorang wanita hingga (syukurlah) saya bukan remaja dengan pergaulan yang sangat bebas hingga melewati batas-batas agama walaupun budaya tersebut bukan barang aneh lagi. Ibu saya pun yang memberi tauladan sebagai seorang wanita yang menjunjung tinggi kesederhanaan dan ‘semampunya’ hingga saya tak pernah malu mengendarai sepeda onthel setiap kali berangkat ke kampus atau berangkat mengajar, walaupun mayoritas teman-teman saya memilih motor atau mobil.
Selain itu, wanita yang ‘keluar’ dari biasa adalah wanita yang rela merasakan memungut rupiah sebelum masanya. Ya, itulah yang kulakukan saat ini. Demi pengalaman dan tambahan pemasukan, saya menjalani sebagai guru privat Bahasa Indonesia di sebuah lembaga bimbingan belajar di Yogyakarta. Bagi saya, ada sensasi tersendiri berhubungan dengan murid-murid dan transfer ilmu yang dimiliki demi meyakini bahwa ini adalah pengabdian bagi bidang ilmu saya.

Tak hanya itu, Kartini ‘saat ini’ adalah wanita yang berani ‘keluar’ dari stereotipe, yang lebih memilih melakukan penelitian-penelitian daripada hunting pakaian dan barang-barang kewanitaan di mall atau swalayan. Baiklah, saya bisa melakukan ini juga karena Kartini yang lain, yakni adik-adik perempuan saya. Bagi saya, melihat senyum mereka karena kubawakan buku bacaan dan alat-alat tulis seadanya lebih bernilai dan lebih membahagiakan daripada sekedar mempercantik http://www.blogger.com/img/blank.gifdiri dengan barang-barang kewanitaan yang harusnya bisa saya manage nanti ketika punya penghasilan pribadi. Selain itu, mereka inilah yang membawa saya pada juara Kompetisi Penulisan Untuk Bangsa dan Negara di UGM dan juga menggiring saya pada salah satu peraih Hibah Penelitian, hanya karena senyum mereka. :)

Singkatnya, menjadi Kartini Muda saat ini adalah menjadi wanita yang mampu ‘keluar’ dari stereotipe, ‘keluar’ dari biasa, atau mampu melawan ‘biasa’. Namun, Kartini hadir bukan beranjak dari kekosongan, Kartini hadir karena Kartini-Kartini yang lain atau malah Kartono-Kartono pula. Semoga timbul Kartini-Kartini selanjutnya yang menjalani, berprestasi, dan menginspirasi :)

*) Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba Kartini Muda Honda 2011.

Rabu, 16 Maret 2011

Jangan Main-main dengan Film (Indonesia) !


Industri perfilman Indonesia boleh jadi telah mengantongi sejarah panjang. Usianya pun sudah tak pantas dikatakan muda. Diawali dengan film berjudul Loetoeng Kasaroeng (1926) yang dianggap sebagai film paling tua di Indonesia hingga film sebangsa Catatan Si Boy dan Blok M pada dekade 1970-an sampai 1980-an yang sempat membawa film Indonesia berjaya di negeri sendiri. Setelah itu, wajah perfilman Indonesia sempat suram pada tahun 1990-an oleh karena usaha eksploitasi konsumen yang dilakukan oleh para sineas pada masanya. Namun, pada kisaran abad baru, muncul geliat positif dari sineas-sineas Indonesia yang menelurkan film-film inspiratif dan inovatif semacam Petualangan Sherina, Ada Apa dengan Cinta, Jelangkung, dan sebagainya. Fluktuatif!

Sementara itu, pada perkembangan selanjutnya, film-film Indonesia juga sempat diwarnai dengan film bergenre horror, seks, atau horror bernuansa seks, dan sebaliknya. Fenomena ini sempat mengundang beragam respons dari masyarakat Indonesia, dari yang menikmati, jenuh, sampai yang antipati. Selanjutnya, menyikapi kejenuhan masyarakat Indonesia, beberapa sineas lain mulai memproduksi film yang tak sekedar dipandang sebagai movies, tapi juga sebagai film dan sinema hingga muncullah film bernada edukasi dengan sinematografi yang bisa dibilang tidak asal-asalan. Sebut saja film Laskar Pelangi, Ruma Maida, Alangkah Lucunya Negeri Ini, dan lain-lain yang sempat memberi warna lain dalam perkembangan film Indonesia.

Sejatinya, telah dijelaskan dalam Mukaddimah Anggaran Dasar Karyawan Film dan Televisi 1995, hakikat film bukan semata-mata sebagai barang dagangan. Film merupakan alat pendidikan dan penerangan yang mempunyai daya pengaruh yang besar untuk masyarakat. Film dinilai sebagai alat revolusi yang dapat menyumbangkan dharma bhaktinya dalam menggalang kesatuan dan persatuan nasional, membina bangsa dan membangun karakter dalam mencapai masyarakat sosialis Indonesia berdasarkan Pancasila. Beberapa hal ini diperkuat oleh James Monaco dalam How to Read a Film menyatakan bahwa film bisa dilihat dalam tiga kategori, yakni sebagai sinema, film, dan movies. Movies memandang film hanya sebagai barang dagangan. Sinema memandaing film dari segi sinematografinya, dan sisanya dipandang dari segi pendidikan dan budayanya.

Beralih pada perkembangan industri film Indonesia, akhir-akhir ini, muncul kabar bahwa Motion Picture Association of America (MPAA) atau asosiasi produsen film Amerika Serikat menyatakan tak akan lagi mengedarkan film Hollywood ke Indonesia. Hal ini merupakan reaksi keras atas dilayangkannya Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak nomor SE - 3/PJ/2011 tentang Pajak Penghasilan (PPh) atas Penghasilan Berupa Royalti dan pemberlakuan Pajak Pertambahan Nilai atas Pemasukan Film Impor. Dalam surat edaran itu, dinyatakan bahwa penghasilan yang dibayarkan keluar negeri oleh importir terkait penggunaan hak cipta atas film impor dengan persyaratan tertentu, merupakan royalti yang dikenakan PPh 20 persen. Peraturan tersebut merupakan hasil penafsiran baru atas undang-undang dan peraturan tentang pajak bea masuk yang lama. Dengan pajak yang boleh dibilang sangat tinggi itu, jelas MPAA menjadi enggan beroperasi di Indonesia walaupun dalih penaikan pajak itu, seperti yang diberitakan media, adalah dalam upaya mendukung industri perfilman nasional sehingga dapat bersaing di pasar domestik.

Respons keras MPAA tersebut bisa jadi mengundang pihak distributor film non-Hollywood untuk ikut serta tidak mengedarkan filmnya ke Indonesia lantaran pajak ini berlaku untuk semua film impor. Apa jadinya Indonesia tanpa film-film impor yang pada kenyataannya justeru film-film inilah yang memenuhi jagat bioskop-bioskop Indonesia dan menjadi satu daya tarik masyarakat Indonesia untuk datang ke exhibitor (bioskop-bioskop). Ironis memang, film nasional justru menjadi pilihan keberapa setelah film-film impor. Namun, fenomena ini agaknya jangan dianalisis dari satu sudut. Kecenderungan masyarakat Indonesia lebih memilih film impor bisa jadi karena kejenuhannya pada film-film nasional yang kebanyakan hanya memuat tema ‘itu-itu saja’, pesan dan amanatnya juga tidak jauh-jauh dari ‘semoga film ini laku dipasaran’. Analisis ini memunculkan pertanyaan, apa benar pengenaan pajak dan bea impor ini—yang berpotensi akan mengurangi bahkan menghilangkan film impor dari layar bioskop—akan meningkatkan jumlah dan kualitas film nasional?

Secara awam, pikir saja, kalau pola pikir para sineas Indonesia hanya sebatas ‘semoga film ini laku di pasaran’, tanpa mempertimbangkan pesan dan dampak yang terjadi pada masyarakat jika terus-menerus dicekoki film kualitas pas-pasan yang mudah bikin jenuh, masyarakat Indonesia akan semakin meninggalkan bioskop dan film Indonesia. Mereka akan cari cara cerdas untuk mendapatkan film luar demi memuaskan hasrat nonton film yang sesuai kebutuhan dan kemauan mereka.

Sementara itu, masyarakat Indonesia yang mentalnya terima-terima saja dicekoki film dangkal itu, lambat laun akan terpengaruh juga pola pikirnya. Kalau Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia sudah tergolong tinggi dan mumpuni, ini tak jadi masalah lantaran mereka sudah bisa memilih, memilah, dan menyikapi. Namun, coba tengok masyarakat di belahan Indonesia lain yang masih butuh pengawasan dan pendampingan, berapa persen masyarakat Indonesia yang masih buta huruf, berapa persen masyarakat Indonesia yang belum disentuh pendidikan. Kalangan-kalangan tersebut yang akan berpotensi menjadi bebal oleh film-film Indonesia yang minim pesan. Bagaimanapun juga, yang terlihat itu akan lebih mudah diingat. Kalau begitu, kapan cita-cita Indonesia mencerdaskan kehiadupan bangsa dan membangun masyarakat Indonesia seutuhnya dan seluruhnya berhasil.

Tak hanya berhenti sampai sineas dan pemirsa, dukungan pemerintah juga penting untuk mencipta film Indonesia yang berkualitas. Pemerintah tidak cuma menaikkan pajak untuk meningkatkan APBN, tapi juga memanfaatkannya untuk pemberian subsidi bagi sineas-sineas berprestasi, mengembangkan sekolah-sekolah film, dan memberikan perhatian pada elemen-elemen lain yang mendukung perfilman nasional, semacam festival-festival atau penganugerahan film. Dari sini, timbullah sinergi yang kuat.

Polemik seputar perpajakan film ini, baik langsung maupun tidak, akan sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup perfilman Indonesia. Oleh karenanya, kita tunggu saja. Pasalnya, seperti diberitakan media, 30 Maret 2011 mendatang Jero Wacik beserta jajarannya akan mengumumkan hasil keputusan terkait pajak film nasional dan impor. Tak berlebihan jika dikatakan bahwa film adalah cerminan budaya suatu bangsa, maka apapun keputusannya, membuat film kualitas rendah dan minim pesan berpotensi membuat masyarakat Indonesia jadi bebal. Mari renungkan.


14 Maret 2011

Tentang Hidup Korban PKI dan Seksualitasnya


Judul : Blues Merbabu
Pengarang : Gitanyali
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta
Tahun Terbit : Februari 2011
Tebal : vi + 186 halaman
Genre : Novel
ISBN : 978-979-91-0315-4
Harga : Rp 40.000,-


Sebagai Negara yang diperjuangkan dan lahir 65 tahun yang lalu, asam garam sejarah Indonesia bolehlah dikatakan telah bermacam ragam. Mulai dari perjuangan mencapai kemerdekaan, perjuangan mempertahankan kemerdekaan, hingga luka sejarah di sekitaran 1960-an. Peristiwa yang disebut terakhir itu masih cenderung gelap karena kesamaran bukti-bukti kesejarahannya. Sebut saja nasib para lakon PKI (Partai Komunis Indonesia) dan antek-anteknya yang hingga kini masih belum terungkap secara gamblang laiknya peristiwa-peristiwa sejarah lainnya.

Blues Merbabu mencoba menyorot kehidupan salah seorang lakon PKI dan keluarganya dari sisi yang polos dan tak banyak mencaci penguasa saat itu. Pusatnya pada tokoh bernama Gitanyali Singayuda, anak dari Sutanto Singayuda, seorang lakon PKI yang sangat gigih, berkarakter, dan sangat mengutamakan pendidikan. Tak heran ketika melihat Gitanyali semasa masih bocah telah tumbuh menjadi anak yang cerdas dan tegas. Gitanyali merasa sangat menyatu dengan tanah kelahirannya, di lembah Gunung Merbabu.

Kesamaan nama antara pengarang dan tokoh utama menyiratkan kesan bahwa novel ini adalah semacam catatan harian sang pengarang. Bahkan, dituliskan pula, dalam kisahnya ia mengaku sangat gemar menulis catatan harian. Sebagai anak PKI yang orang tuanya diciduk pada sekitaran 1960-an, Gitanyali dituntut menjadi dewasa sebelum waktunya. Segala kesialan dan nasib yang terpaksa tidak beruntung sebagai anak PKI ia hadapi dengan bertahan, bukan melawan. Ia menyebut perjuangannya menyikapi kehidupannya dengan suloyo.

Suloyo diartikan sebagai ‘mengingkari’, tidak akan memenuhi janji, menidakkan, meski di luar kelihatannya mengiyakan. Gitanyali pun menyadari bahwa mungkin ini adalah dorongan bersikap bagi orang yang tidak berdaya seperti dirinya. Melalui gambaran ini, tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa sang tokoh bertindak seolah tidak ada apa-apa dalam kehidupan masa lalunya walaupun sebenarnya ia suloyo. Kekecewaan yang dirasakan Gitanyali sebagai anak PKI tidak ia gubris sebagai sesuatu yang sangat menyakitkan. Bahkan, ia tidak pernah berefleksi merasa sial atau beruntung dalam hidupnya, ia telanjur menjalani apa yang ia jalani. Mungkin di sinilah daya tarik novel ini, ketegaran sikap seorang anak PKI.

Karakteristik Blues Merbabu adalah pada gaya penceritaan yang polos, lugas, dan tidak menggebu-gebu walaupun banyak sekali scene tentang petualangan seksual sang tokoh. Di buku ini juga banyak ditemui kisah-kisah pergaulan anak muda. Dari soal musik, film, sampai ke Mushroom Omelette yang memabukkan. Ia mampu mengkover yang vulgar dan panas menjadi sesuatu yang lazim dan normal. Ia menulisnya dengan mengalir, santai, angkuh, dan tak ada sedu sedan. Tak berlebihan bila dikatakan, di sinilah kekuatannya hingga dapat memberikan kesan kepada pembaca bahwa tak hanya seks belaka yang dieksplorasi, kekuatan karakter tokoh utamanya menggiring pembaca untuk ikut larut di dalamnya.

Novel ini tak dilengkapi keterangan latar belakang penulis seperti novel-novel lain meskipun karya ini adalah novel pertama Gitanyali. Entah apa yang menjadi latar belakang hal tersebut, entah untuk kepentingan politis atau kepentingan diplomatis. Tanpa berniat melebih-lebihkan, novel belatarbelakang sejarah ini cukup sempurna sebagai sebuah karya hasil transkripsi luka sejarah di era 1960-an. Pengaburan identitas penulis ini juga menguatkan adanya efek-efek kenyataan atau realitas. Sesuai diktum hiper-realitas yang dituliskan Gitanyali di bagian awal novelnya, “…semua yang ditulis ini benar adanya, kecuali bahwa dia sebuah kenyataan.”

Jumat, 09 April 2010

(Semacam) Resensi Film My Name is Khan



“My name is Khan and I’m not a terrorist…”

Kata-kata tersebut seolah menjadi kunci pamungkas jalan cerita film ini. Dilatarbelakangi suasana pra dan pasca tragedi 11 September di World Trade Center Amerika Serikat, film bertema perjuangan, cinta dan pengorbanan ini digarap apik oleh sang sutradara, Karan Johar. Film ini seakan mengangkat isu ketegangan hampir seluruh masyarakat dunia yaitu terorisme yang menyangkut suku, ras, agama, dan warna kulit. Meskipun begitu, film ini tetap mengusung tema stereotipe yakni cinta, baik cinta kepada lawan jenis, cinta kepada orang tua, sesama, tanah air, bahkan cinta kepada agama.

Selain kisah perjuangan dan cinta, film ini seakan mengajak penontonnya untuk berpikir tentang esensi perbedaan. Perbedaan yang disuguhkan dalam film ini pun tak main-main, mulai dari perbedaan suku, ras, agama, warna kulit, sampai perbedaan orang biasa (normal) dengan penderita syndrom Asperger. Tak pelak, setting tempat yang disuguhkan pun tidak melulu di kawasan India, namun juga berkisar antar negara-negara di Benua Amerika. Hal ini seperti bertujuan untuk menunjukkan keberagaman masyarakat dengan ideologi yang bermacam-macam pula. Secara teknis, film Bolywood yang dibintangi Shah Rukh Khan dan Kajol ini melumpuhkan opini bahwa film-film Bollywood selalu didominasi oleh nyanyian dan tarian. Namun, justru itulah film ini layak ditonton bagi yang bukan pecinta film-film asal India.

Di bagian awal, scene yang ditampilkan adalah narasi Rizwan Khan dewasa (Shah Rukh Khan) ketika menulis di buku hariannya di sela-sela perjalanannya menemui presiden Amerika. Film ini menganut alur maju-mundur (campuran). Oleh karena itu, scene selanjutnya mengisahkan tentang kehidupan Rizwan Khan kecil sampai menginjak remaja dan dewasa. Alur selanjutnya maju secara linear sampai bagian akhir. Dikisahkan, seorang Rizwan Khan kecil adalah seorang penderita syndrom Asperger atau biasa dikenal dengan autisme. Saat itu, sedang berkecamuk perseteruan antara Muslim dan penganut agama Hindhu pada tahun 1983. Hal ini melibatkan pula penganut Sikh. Rizwan Khan mengalami semacam ‘bullying’ dari teman-teman seumurannya karena penyakit yang dideritanya, namun ibunya selalu membesarkan hatinya dan menuntunnya. Penderita syndrom Asperger umumnya mempunyai kecerdasan cukup tinggi, begitu pula dengan Rizwan Khan.

Seorang Rizwan Khan mempunyai trauma pada suara keras dan warna kuning. Oleh karenanya, ia sering bingung dan kalap ketika bertemu dua hal tersebut. Saat ia tinggal di San Fransisco setelah kematian ibunya, ia bertemu dengan Mandeera (Kajol). Dari sini penonton bisa menebak bahwa Mandeera akan menjadi kekasih Rizwan Khan. Romantisme ala film Bollywood dimulai di sini ketika Rizwan Khan berjuang mencari tempat yang belum pernah dikunjungi oleh Mandeera. Kisah berjalan cukup memikat. Namun, kehidupan keluarga yang harmonis antara Rizwan, Mandira dan sang anak semata wayang mereka, Sameer, berubah total saat sejumlah teroris yang mengatasnamakan agama dan suku menyerang menara kembar World Trade Center di New York pada September 2001.

Sebuah peristiwa memilukan kemudian terjadi dalam keluarga kecil Rizwan, dimana mereka harus kehilangan Sameer yang dibunuh secara sadis oleh teman sekolahnya karena isu rasial. Mandira yang terpukul lalu mengusir Rizwan. Mandira mengultimatum Rizwan untuk tidak boleh kembali sebelum dia memberitahu Presiden Amerika Serikat bahwa dirinya bernama Khan dan bukan teroris. Rizwan yang lugu kemudian putus asa karena harus berpisah dengan orang yang dicintainya lalu memulai petualangannya melintasi berbagai negara bagian Amerika Serikat demi bertemu dengan calon Presiden Barrack Obama yang sedang berkampanye keliling Amerika. Tekadnya hanya satu, memberitahu Presiden Amerika Serikat terpilih bahwa namanya adalah Khan dan dia bukan teroris.

Film yang dirilis 12 Februari 2010 lalu ini cukup memberikan banyak pesan dan inspirasi, termasuk pemahaman tentang agama dan budaya lain sehingga tidak menjadi fanatik atas keyakinan yang dianut. Film ini seakan mengangkat pemahaman mengenai multikulturalisme dan pluralisme. Melalui keberagaman yang diusung, penonton seakan diajak untuk berpandangan jauh lebih luas. Meskipun begitu, film ini ini sejatinya memang tetap muncul dengan tema cinta, hal ini juga diperkuat dengan tagline-nya yaitu “An ordinary man, An extraordinary journey… for love”.

Ariny Rahmawati

Jumat, 27 Juni 2008

SOAL – SOAL BIOLOGI KELAS XI IPA

english version

Choose the correct answer below!

1. Urine formed by a kidney collects in the _____ before being drained from the kidney by the _____ and transported to the _____
    1. urethra ... urinary bladder ... ureter
    2. renal pelvis ... medulla ... cortex
    3. renal pelvis ... ureter ...urinary bladder
    4. renal pelvis ... urethra ... urinary bladder
    5. ureter ... renal pelvis ... urinary bladder

4. The _____ are the major blood vessels transporting blood to the kidneys.

    1. pulmonary arteries
    2. glomerulus
    3. renal arteries
    4. renal veins
    5. venae cavae

5. The outer part of the kidney is the _____

    1. medulla
    2. nephron
    3. lacteal
    4. cortex
    5. Bowman's capsule

6. Which of these is the functional unit of a kidney?

    1. neuron
    2. villi
    3. nephron
    4. alveolus
    5. osteon

7. The movement of substances out of the glomerulus and into Bowman's capsule is referred to as _____

    1. secretion
    2. reabsorption
    3. active transport
    4. ion pumping
    5. filtration

8. The movement of substances from the blood into the proximal tubule is known as _____

    1. filtration
    2. dialysis
    3. secretion
    4. reabsorption
    5. none of these

9. Which of these is reabsorbed from filtrate?

    1. sodium chloride
    2. glucose
    3. water
    4. amino acids
    5. all of these

10. As filtrate moves down the loop of Henle, the surrounding interstitial fluid becomes _____ concentrated than the filtrate, so _____ leaves the filtrate.

    1. more ... urea
    2. less ... urea
    3. more ... water
    4. less ... water
    5. less ... water and urea

11. The most abundant solute in urine is _____

    1. glucose
    2. water
    3. plasma proteins
    4. sodium chloride
    5. urea (and other nitrogenous wastes)

13. Glucose is removed from filtrate by _____

    1. secretion
    2. diffusion
    3. dialysis
    4. active transport
    5. osmosis

14. Under the influence of antidiuretic hormone (ADH), _____ is produced.

    1. urine containing more glucose
    2. bloody urine
    3. urine containing a lower concentration of urea
    4. more concentrated urine
    5. less concentrated urine

15. Antidiuretic hormone (ADH) makes the _____ permeable to water.

a. ascending portion of the loop of Henle

b. collecting duct

c. Bowman's capsule

d. proximal tubule

e. descending portion of the loop of Henle

(sman's mojoagunkz only....)